Senin, 29 Desember 2008

Ketika Aku Kehilangan Keaslian Diri

Setelah hari ini aku tak akan pernah tahu esok hari. Namun jiwaku selalu terbang menghinggapi sore yang datang menjelang. Karena aku selalu ingin lebih dulu datang di pagi hari. Aku tak pernah suka jika aku terbangun setelah mentari. Bukan karena harus, melainkan undangan bumi yang selalu menyambutku dengan sejuta wara dan wiri.

Aku tak pernah tahu bahwa aku punya dunia yang tak kumengerti. Menjauh katik aku butuh dan menghilang ketika ragaku mencengkram. Tapi selalu ada dikala rindu sepi menerjang. Aku selalu tak butuh dengan dunia yang menganggu.

Kadang aku butuh dengan diriku. Tanpa sesuatu apapun. Hanya diriku. Aku butuh bersama menikmati pagi, merenungi kalbu dan membakar api di hati. Ini membuatku hangat dan menggebu. Aku bahkan tak mengerti kenapa aku harus berlari dari bumi.

Boleh jadi duniaku tak mengenalku lagi. Sebuah dunia yang kutinggali menghempaskan segala naluri. Menggoyangkan jiwa dan menepikan sepi. Tapi aku seperti sendiri. Bukan lagi bernyanyi melainkan menarik diri. Jika segudang mimpi tertoreh dihati, di dunia ini justru mimpi itu jadi misteri nyeri. Aku menjadi tak butuh mimpi. Itu bukan lagi punyaku, bukan lagi diriku. Dan aku hanya terhempas ke tepi. Nyeri, dan kini mematuk diri.

Sakit. Sakit saat aku tak mampu mengenal diriku sendiri. Tak lagi mampu menyatukan diri-diri yang berceceran di jalanan kaki ini. Sungai telah membelah aku dan diriku, menghamburkan diri-diri dalam banyak rupa. Aku tak kuasa meningkahi janji hati yang parau berbunyi. Aku hanya menangis memapah hati.

Ah, aku terjebak dalam dunia yang terkoyak. Aku kehilangan harta dari mimpi. Aku tengah mengadukan diri pada diri. Aku akan menuntut diri dari diri.

Dunia, yang nampak suci telah menggelantungkan diri dalam nyeri. Bukan memberi arti tapi memaksa diri. Aku melihat diri trekoyak mimpi, dan jadi budak sunyi.

Aku tak menjadi diri dalam jalan ini melainkan sunyi yang diam tak bernyali. Dan aku tebak hidup bukan budak mimpi. Karena mimpiku menghancurkan mimpi diriku.

Aku akan menggali lubang diri, mengeluarkan lintah yang lama mebuncah. Aku tak akan menjadi sepi yang bergeming karena angin. Aku akan menjadi diri dengan tali-tali diri.

Puisi; Kenangan Tahun ini

SEPI

sepi,
tak ada lagi beban untuk dibagi
aku tak bisa mengeluh karena lelah.

sedih,
sakit,
dan tentu ada sejumput kebahagiaan
di sana.

ah, Tuhan.
ijinkan aku melupakan sejenak kepiluan ini
biarkan kami menjadi kupu-kupu yang mewarnai indahnya bumi
agar bisa bersemi...
biarkan kami menjadi bidadari yang senantiasa tersenyum...

ah, Tuhan.
ada saat, waktu dan tempat terindah yang kan Kau hadiahkan untukku,
untuk kami.

(dicuplik dari Siro's Diary; 28 Juli 2008)

(puisi belum berjudul)

lentera itu kini padam
dihembus tangis yang tak berujung
menenggelamkan diri di ruang duka
agar borok tumbuh berseri

perih jiwa ini terkikis rasa
mengelepuh lamat kulit bernanah
tak hendak berani melangkah
meskipun tak goyang dalam pijakan

aku nyeri berlari,
mundur tertimbuk duri,
payah begitu terasa

rindu menganga,
cinta membara,
buncah mengaduh pilu
aku lalai lemah...

aku pilu.
aku ngilu.
aku ragu.
aku beku.

aku ingin kembali!
(Siro's Diary; 11 September 2008)

Jumat, 26 Desember 2008

Ketika pertanyaanku jadi pertanyaanmu...

Di sela sore, di saat gerimis, yang mungkin nyaman untuk tidur, kami…tanpa double m..tergesa membuat lingakaran di sudut Salman. Itu adalah hari terakhir kami Liqo di tahun 2008. Dengan Murobbi baru, dengan amanah baru, dengan eksklusifisme yang mungkin baru kupegang. Tapi ada sesuatu yang menyeruak dengan suasana sore itu. Ada sebuah rasa yang tak semua orang memilikinya.
Seperti biasa aku dan rekan seperjuangan, teman sekelompok yang bareng-bareng ikut tarbiyah semenjak awal masuk kuliah (meskipun tinggal bertiga yang benar-benar bareng-bareng dari awal) tetap semangat menjejak langkah. Tak ada rasa bosan meski kadang materi yang didapat tak sebaik yang kami harap. Tak ada rasa terpaksa meski kadang hati-hati kami mengeluh dengan beratnya amanah. Tapi kami tetap setia meski terasa bahwa jamaah ini terlalu mengekang kami.
Ada satu yang berbeda dengan sahabatku tercinta. Sahabat yang selama ini justru selalu ada di garda depan untuk mengingatkan ketika aku mengutuk dengan keputusan syuro, yang selalu menjelaskan ketika aku jengah dengan basa-basi arti yang tak kumengerti..ketika aku lelah dengan kata sami;na waa’thona. Tapi hari itu sungguh tak dinyana jika keluh kesah itu, jika pertanyaan-peranyaanku jadi pertanyannya, jika gugatanku pada jamaah ini menjadi gugatannya… sungguh tak kuduga….
Satu diantara sahabatku yang mungkin paing militant bertanya tentang kondisi yang jauh hari telah kutanyakan….yang jauh hari telah menggoyahkan militansiku di jamaah ini..tapi kenapa sahabatku baru mempertanyakannya sekarang? Di saat kau sudah mulai melupakan ketidakfahaman itu? Di saat aku mulai mencoba menjadi qiyadah yang ikhlas sekaligus jundi yang taat? Kenapa ia baru mempertanyakannya sekarang saat aku sudah terlalu lelah dengan semua Tanya yang menjadi tanyanya?
Ah…ukhti…aku telah lama mengubur semua itu? Ataukah pertanyaanmu pertanda bahawa apa yang kurasakan adalah manusiawi? Namun tatkala pertanyaanmu meluncur, aku seolah tertawa geli dengan semua.. entah kenapa? Yang pasti bisa jadi itu bukti bahwa aku telah dewasa beberapa saat dari pertanyaan itu. Pertanyaan kenapa kita harus sami’na waa’thona dengan segala keputusan syuro…adalah deli panjang yang taka akan pernah berujung jika kita pertanyakan terus…
Aku yakin setiap dada manusia akan mempertanyakan itu,,sekalipun itu adalah kader dawah yang paling taat sekalipun.. ini adalah fitrah kita… namun ketika pertanyaan itu menghambat kita untuk tidak bergerak? Justru itulah yang sebenarnya menjadi pertanyaan yang lebih besar dari sekedar pertanyaan kita tentang semua..
Menyikapi SMS-SMS penggutan ikhwah kita di UPI.. aku yakin semuanya bisa kita lihat dengan sudut pandang yang sangat bijak… Kita tak dapat sepenuhnya menyalahkan ikhwah yang memang punya hak untuk bertanya, untuk berbagi segala keluhannya.. mudah-mudahn kejadian ini bias menjadi evaluasi bagi anggota jamaah ini..
Dan sebaliknya kita juga tak dapat menjudgment qiyadah kita yang tak buces dengan kinerjanya. Terlalu berat medan dawah ini untuk ditambah dengan pemasalahan internal yang bertubi-tubi. Aku tak ingin kita menjadi bagian besar dari jamaah ini yang teraung dilautan tanpa tajam menjejak bumi.. aku tak ingin kita terpecah dalam badai yang kita tuai sendiri..
Bukan saatnya kita untuk saling mengkambinghitamkan. Bukan saatnya pula kita menyalahkan partai yang disepakati menjadi roda kita untuk berguling. Saatnya adalah kita berusaha menjadi kader tarbiyah yang tak lagi melihat apa partai kita, apa profesi kita, atau dimana kita ditempatkan di jamaah ini… bukankah jamaah ini ada ketika ada yang menjadi jundi dan qiyadah, ada murobbi dan mutarobi, ada yang tahu dan ada yang tidak….????
Semangat ukhti! Jamaah ini akan terus bergerak tanpa ada dan tiada pertanyaan kita tentang apapun…

Jumat, 19 Desember 2008

Akhir Perkuliahan Postmodernisme

hmmm...lebih dari dua kali aku mendapatkan kata "pertanyaan yang bagus, bagus sekali!" dari my best teacher bu Vina....saat perkuliahan Postmo di semester ini. Bagaimana tidak? perkuliahan inilah yang menurutku adalah sebuah jalan pencerahan tentang semua ilmu yang kudapatkan. Di mata kuliah ini pula..aku belajar tentang kebijaksanaan, kebijaksanaan yang oleh para psikolog...digembor2kan mesti dimiliki.... namun ternyata aku tak dapat dari mereka. Tapi aku justru dapat di mata kuliah ini...
Tanpa pernah melupakan kebaikan Derrida, Nietzsche, Karl marx aku akan berjalan dengan keyakinanku... Postmo yang hanya kupelajari satu semester ini setidaknya telah banyak mengajarkan bagaimana ku selayaknya harus hidup dengan kebijaksanaan.. Dan disinilah.. di mata kuliah inilah ku tahu bahwa inilah kebijaksanaan dari sebuah filsafat...Aku tak akan pernah menyalahkan siapa pun yang tak sepakat dengan diriku..karena setiap manusia memiliki kebenarannya sendiri...begitupun dengan tokoh-tokoh tadi, Nietzsche...Derrida...Karl Marx....
aku bangga masih bisa belajar dari mereka....
Chayo..belajar filsafat itu akan membuatku lebih bijak dalam memandang orang lain... bukan justru membingungkan orang...
Makanya...aneh juga tu anak2 IAIN yang gara2 belajar fisafat jadi malah keblinger... bagiku, itu mah gagayaan doang..berarti mereka itu ga nyampe belajarnya mpe akhir...
belajar Filsafat= membuat kita bijak (Jika kita slese belajarnya, coz jika kita lagi belajar filsafat trus tiba2 di tengah jalan kita jadi pengikut fanatik satu tokoh..ya gitu deh jadinya..jadi kayak anak2 IAIN yang kblinger...) makanya jangan pernah takut buat belajar filsafat...
Smangat!!!