Senin, 27 September 2010

Romantisme Spiritual

Akulah, anjing jalang yang mengendus-ngendus di pintu-Mu
menitik tabir, memecah liur istana-Mu
akulah najis dien-Mu

Aku hanya bisa menyeringai
membuncah nanah dan menepikannya di parit-parit keraton-Mu
berharap goresan kasih-Mu
mengemis haribaan mahabbah-Mu

Aku terus mengendus sepi di mata-Mu
mengorek sebongkah puing asmara-Mu
dan menjejali peluh Ilahiah-Mu

Aku mendesak ingin menelusup di bawah kaki-Mu
berjejak telapak yang tak nampak
berkelu di pusara berdecak

Akulah, anjing jalang sasar
menelusuri tiap lorong berteku
melipat jarak berjejal
hanya mencari seonggok hati yang tak pernah borok

Akulah,
anjing jalang
bermata durja

Rabu, 22 September 2010

Romantisme Spiritual I

"Lelah!" kata ini mungkin tak lagi kuucapkan.
Aku perlahan mencoba menerima semua jalan yang Ia anugerahkan dalam hidupku.
Aku mencoba menikmati kehidupanku, dengan berbagai warna, hitam dan putih, aku dan sisi-sisi hidupku.
Rasanya sudah tak pantas lagi aku mengeluh, setiap lirikan kata lelah bisa menjadi gurauanku pada-Nya.
Dan aku hanya bersyukur, masih bisa memiliki waktu dengan-Mu... berbagi semuanya...
Kau adalah ibu, sahabat, kekasih dan Rabbku yang selalu ada untukku...
Karena-Mu, aku bisa memaknai setiap langkah, setiap ujian dan episode hidupku, sehingga aku mampu bertahan dalam titian kehidupan...
meski kadang, aku rindu dengan kebebasan...
tapi aku tahu, Engkau sudah memberikan jatah terbaik dalam hidupku...

Fakta dalam hidup, pengorbanan, pengabdian telah menguras rasa lelah,
mengeringkan daya untuk berkeluh kesah, apalagi merengek meminta kehidupan pada-Mu...
aku telah terbiasa dengan cara-Mu mencintaiku, terlalu romantis bagiku...
aku suka cara-Mu mencintaiku...

Selasa, 21 September 2010

Goresan Jiwa

google.com
Duhai Allah, jutaan puisi Rumi mungkin telah banyak mengobatiku. Ratusan ayat telah menjadi tabib hari-hariku kini. Tapi dapatkah itu semua menyampaikan aku kepada-Mu? Manakala aku hanya terduduk di sudut, terdiam dalam kelam. Dan menyayat-nyayat kehidupan.

Duhai Allah, deraan rasa sakit yang menyiksa hubungan kita akhirnya hanya menjadi bilur-bilur di jiwaku. Menjadi borok yang selalu terlihat ketika aku menghadap-Mu. Menjadi kesedihan saat kita berbincang.

Duhai Allah, Engkau Maha Tahu betapa aku menahan jerit kesakitan, saat aku tak bisa menitikan air mata untuk-Mu. Betapa Aku menjadi anjing yang jalang saat mengunjungi istana-istana-Mu.

Duhai Allah, kerinduanku pada-Mu menyumbatku. Mengeringkan telaga hatiku. Menciumkan aku pada pusara-Mu.

Duhai Allah, namun aku beku. Adakah Engkau marah kepadaku? Adakah Engkau tengah merajuk?

Duhai Allah, Engkau tahu betapa aku tak bisa menjadi musafir tanpa-Mu. Berjalan terkoyak tanpa berteduh di kerindangan kasih-Mu.

Aku tahu. Engkau melihatku berjalan dengan cakaran-cakaran hitam dalam diri. Kakiku penuh luka. Kadang tertatih menyusuri kerikil-kerikil tajam di jalanan.

Aku tahu. Engkau merasaiku bergemuruh dengan ombak-ombak di hati. Jiwaku bernanah. Kadang terperosok dalam jurang-jurang gelap tak berarah.

Aku tahu. Engkau menatapku tajam. Saat aku berlari dari kenyataan. Saat Engkau menamparku keras, kemudian memeluk hangat jiwaku.

Aku tahu. Air mata ini Engkau usap dengan belaian tangan-Mu. Menjauhkan aku dari rasa hujan, dari rasa panas, dari dahaga kehidupan.

Aku tahu. Mencinta-iMu adalah rasa sakit dalam hidupku. Mencintai-Mu adalah kecemburuanku pada makhluk-makhluk-Mu yang sholeh.

Duhai Allah… biarkan aku mengendus sepi di selasak rindu-Mu. Berjejak tepalak yang tak nampak. Dan mengais remah-remah cinta-Mu.

Duhai Allah… dalam semua, betapa aku ingin selalu mengucapkan, “aku hanya ingin menjadi kekasih-Mu sahaja...”

Catatan Hati
(Bandung, 12 April 2010)

Mawar Di Atas Menara

Mungkin kau adalah orang kesekian yang berubah. Berubah karenaku. Atau mungkin gelombang kita sama. Satu pemikiran atau mungkin satu hati. Ah, tak mungkin. Jelaslah tak mungkin, wong kita saja berbeda badan. Mana mungkin hati kita satu.

Tapi,ingatkah saat kita pertama kali bertemu, saat itu engkau melihatku dari ujung kepala hingga mata kaki. Aku pikir kau adalah saudaraku, satu rumpun denganku. Aku bisa melihat dari caramu memandang, dari gaya berpakaiannya, dari sandal jepit yang kau pakai di tempat kerja. Kau tampak seperti teman-teman kampusku, kebanyakan.

Aku kira, kau adalah temanku di tempat baruku. Tapi ternyata bukan, justru kau jauh dari sekedar yang kukira. Engkau datang dari komunitas para penggemar sufisme. Mungkin lebih tepat kau adalah seorang salafiy. Ya, itulah yang kusimpulkan pada akhirnya.

Tapi ada yang berbeda. Ada apa dengan pandanganmu sobat? Rasa-rasanya ada yang hilang dari keutuhan jiwa sufi itu? Sering aku mendapati engkau melahap makanan mata yang menyakitkan. Iya, terasa sakit karena itu bukan hakmu. Kau pandangi hawa terlalu lama, terlalu dalam mungkin.

Ku coba menggali, ternyata kau sudah memiliki bidadari hati. Tapi kenapa? Kenapa mata itu menjelajahi negeri yang haram bagi hatimu?

Termasuk aku merasakan, hawa panas itu menyembur darimu. Hingga kutahu juga tentang perceraian itu. Ah, ada apa denganmu kawan? Aku terlalu bersih memandang dirimu, menyangka suci jiwamu. Saat kupergoki dirimu bertingkah malu, ahai aku merasakan jiwamu begitu memuakkan bagiku. Aku dihinggapi jijik melihatmu. Teramat memuncak mungkin kali itu. Hingga menyisakan buih jijik yang tak tertahankan.

Aku tak menyangka, begitulah kaum Adam menjaga bola matanya. Ia tak sempat melihat aku tersenyum dengan kebanggaan akan dirimu yang pandai menyembunyikan pandangan.

Sejak itu, aku mencoba mengalihkan semua tentangmu sobat. Aku mencoba menjauh dari membutuhkanmu. Menghilangkan diri saat peluang berpapasan denganmu datang. Bukan bersembunyi, atau menjauhkan diri. Aku takut, rasa jijik itu tumpah saat tubuh dan mataku berderak di dekatmu.

Ah, rasanya aku tak ingin membencimu. Tapi rasa benci pada sikapmu, membawaku pada benci padamu jua. Mungkin, kau merasa dengan perubahanku. Kau mungkin merasa, apa yang terjadi.

Mungkin, kau sadar, sehingga kau langsung pintar merasa bahasa tubuhku.Aku menghindar, karena memang tidak suka. Dan begitulah aku ditarbiyah di komunitasku. Aku justru ingin menunjukan padamu, bahawa pendidikan yang kulalui, kujalani ini berbekas dalam jiwaku. Aku juga ingin membuktikan bahwa aku bisa menjadi pribadi yang Islam inginkan. Maka aku coba mengukuhkan diri, menyucikan semua tentangku kepadamu. Biar kau tahu, inilah aku dengan dakwah tarbiyahnya. Bukan aku ingin menyombongkan dari komunitas mana aku berasal, tapi aku ingin menunjukan bahwa komunitasku jauh labih baik menghasilkan generasi terbaik. (Amin)

Lalu, kau rasakan itu. Kau mulai berhati-hati dengan matamu. Entahlah, di tempat lain. Cuma aku melihat kau mulai berubah. Kau ragu menatapku, tidak seperti dulu. Kadang, untuk berkata-kata pun kau malu padaku. Rasanya, engkau menjadi seorang yang tak mengenalku, mencoba mengimbangi caraku melihat makhluk lain dari duniaku. Karena aku hanya menatap sekilas, setelahnya biasanya kuhabiskan menatap materi.

Aha, aku mencoba mancatatmu. Ternyata kau benar berubah. Memagari setiap tatapan, mengurangi pandangan dan kadang tak berkata-kata yang tak kau perlukan.

Tapi maaf, aku bukan ingin mengajarimu. Aku hanya ingin melihatmu, manjadi kawanku mempersiapkan yang terbaik untuk masa kelak. Aku sungguh tak membencimu, melainkan sayang kepada saudara untuk bisa berbagi hikmah.

Sungguh, bukan aku tak mau menikmati syurga-syurga itu, tapi aku tak sanggup memikul hati yang dibebani dengan noda.

Biarkanlah itu menjadi pelajaran, menjadi ibroh yang bisa kita sebarkan ke banyak orang. Mungkin setelah kau, aku akan sebarkan ke kawan-kawan kita yang lain. Biarlah rasa manis itu kita nikmati bersama.

dedicated for my brother
Sungguh, sesuatu itu diawali dari kita, dari perilaku kita dan pola kerja kita
Biarkanlah saudaramu ini menjadi mawar cantik di atas menara
Tak semua orang bisa menyapa, namun semua orang bisa menatap keindahannya
heheee.. lebay..
Ayo kawan, semangat!

Memilih Islam di Puncak Keraguan

(Indah Margaretta)


“jika kamu masuk Islam, tak ada lagi hubungan anak dan orang tua”


Sebagai seorang Protestan, selain aktif di sekolah, Indah Margaretta pun aktif menjadi pelayan “Tuhan” di gereja. Manakala rutinitas baca Alquran dan doa pagi sebelum beraktivitas dilaksanakan di sekolahnya, Indah kerap menjadi siswa terakhir yang masuk kelas. Ia tak mau mendengar teman-teman muslimnya membaca Al Quran.

Suatu malam saat ia masih menjabat sebagai ketua unit kegiatan Rokris (Rohani Kristen), dua kali berturut-turut ia bermimpi aneh. Sebelumnya, mimpi itu belum pernah tertulis dalam kitab hidupnya. Dalam mimpi itu, Indah berpakaian lengkap, menggunakan mukena dan mengerjakan shalat. Usai takbiratul ikhram ia bingung, karena tak tahu gerakan apa yang mesti dilakukan. Sedikit terkejut, ia pun lantas terbangun dari mimpinya. Saat itu Indah berusaha menganggap mimpi tadi sekedar bunga tidur belaka.

Ia pun kembali terlelap dalam tidurnya. Namun, tak lama kemudian, setengah sadar, Indah menemukan dirinya dibawa oleh sosok tak dikenal. Sosok itu adalah seorang laki-laki yang wajahnya memancarkan sinar terang benderang, hingga tak bisa jelas terlihat.

Sekejap, tiba-tiba Indah mendapati dirinya tengah berjalan menyusuri sebuah tempat nan indah, yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya. Belakangan Indah baru sadar, itulah kota suci umat Islam, Mekkah, dimana di dalamnya terdapat bangunan suci peninggalan nabi Ibrahim, Ka’bah. Saat itu, untuk pertama kalinya Indah tahu, jika di dalam kabah itu ada sebuah batu tak berbentuk berwarna hitam. Itulah Hajar Aswad, yang juga ia saksikan langsung dalam peristiwa itu.

Belum habis rasa kagum dia, Indah kembali terkejut tatkala mulut sosok laki-laki itu mengeluarkan suara yang luar biasa menggema. Hingga kini, benaknya masih bertanya-tanya, apakah peristiwa itu mimpi atau bukan? Jika memang mimpi, mengapa saat terbangun, telapak kakinya terasa kotor, penuh pasir?

Ganjalan Iman

Usai kejadian itu, Iman Kristennya terasa hambar. Ada sesuatu yang mengganjal manakala ia harus pergi ke Gereja, atau bahkan sekedar berdoa kepada Tuhannya. Batinnya mulai terasa nyaman, justru saat mendengarkan teman-temannya tilawah (baca Alquran) di kelas. Anehnya lagi, tanpa sadar, setiap kali Adzan berkumandang, air matanya meleleh, membasahi kedua pipinya.

Namun, jabatannya sebagai ketua Rokris, membuatnya tak lantas menampakkan perubahan diri. Ia tetap menjalankan rutinitasnya sebagai seorang nasrani.

Lama kelamaan, Indah merasakan keraguan luar biasa dalam akidahnya. Ia bimbang dan tengah berada di puncak keraguan. Indah pun menyatakan diri bukan lagi bagian dari pemeluk Kristen. Ia mengaku skeptis, cenderung Atheis.

Demi mencari iklim kebebasan berkeyakinan, Indah mencoba lari dari Jakarta. Beruntung, ia diterima kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung. Di kota inilah ia mulai mencari kebenaran. Sebuah kekuatan yang tanpa disadari tengah menuntunnya.

Satu tahun dalam pencarian, ia bergulat dengan pemikiran dan hatinya yang merindukan sebuah telaga ketenangan. Meski Islam sudah memikat hatinya sejak lama, namun Indah tak lantas memutuskan diri untuk menjadi seorang muslim. Butuh waktu untuk memantapkan hatinya, menapaki jalan yang sama sekali baru.

Delapan Februari 2006, di Gunung Batu Bandung, setelah benar-benar mantap, Indah pun mengucap dua kalimat syahadat. Tidak banyak yang diberitahu ihwal ke-Islamannya. Bahkan, hingga ditemui Alhikmah akhir Januari 2010, kedua orang tuanya sama sekali belum diberi tahu ihwal itu. Hanya beberapa sahabat muslimnya saja yang mengetahui.

Setiap kali pulang ke Jakarta, Indah selalu mengatur waktu shalatnya dengan baik agar orang tuanya tak sampai curiga. Shalat subuh ia lakukan sebelum orang lain bangun, Dzuhur dan Ashar dijamak usai mandi siang, supaya orang tidak curiga. Begitu seterusnya, hingga suatu hari papanya melihat Indah membawa sebuah Iqro.

Melihat itu, tanpa diduga sang ayah spontan mendaratkan tinjunya tepat di muka Indah. Prekkrerkk kacamata yang masih ia kenakan pun pecah berkeping-keping. Indah kaget luar biasa. Tubuhnya terhuyung-huyung seperti mencari keseimbangan agar tak jatuh terjerembab. Darah segar pun mengalir dari kulit hidungnya yang robek, tersayat pecahan kacamata.

“Ingat Indah, jika kamu masuk Islam, maka tak ada lagi hubungan anak dan orang tua,” ancam sang ayah. Beruntung, aksi orang tuanya berhenti hanya sampai di sana. Mereka belum menyimpulkan kalau anaknya itu benar-benar sudah berubah akidah.

Nyaris kembali Kristen

Pengalaman itu membuatnya ekstra hati-hati. Ia berusaha untuk tidak membawa apapun yang ada kaitannya dengan simbol Islam saat menemui orang tuanya. Bahkan satu tahun terakhir, Jilbabnya masih buka-tutup. Saat merasa aman ia kenakan, ketika pulang terpaksa dibuka.

Begitupun saat memasuki dunia kampus. Ia terpaksa menanggalkan kerudungnya, karena khawatir ada sanak saudara yang melihat, lantas melaporkan pada orangtuanya.

Kondisi seperti itu membuatnya tertekan. Ia lelah dan capek untuk terus bersikap backstreet seperti itu. Bahkan, sempat terlintas dalam benaknya untuk kembali lagi menjadi seorang pemeluk Protestan. Pulang-Pergi antara Bandung-Jakarta membuatnya semakin sering mengunjungi gereja. Tapi anehnya, semakin intens ia datang ke gereja, semakin menyusut keyakinan akan iman kristennya.

Syukur, pada akhirnya ia sadar bahwa hidup adalah pilihan. Ia bulatkan keyakinan pada dirinya bahwa Islam adalah jalan terbaik untuk menggapai kebahagiaan hakiki.

“Ini masalah hati dan akidah, hingga keyakinan ini tidak bisa diganti dengan apapun,” ungkapnya.

Saat ini bagi Indah, tantangan terberatnya adalah memberitahukan bunda dan papanya tentang ke-Islaman dia, setelah tiga tahun sengaja disembunyikan. Berat rasanya bagi Indah, tatkala membayangkan reaksi keduanya saat mengetahui anaknya sudah beralih keyakinan, kelak.

Namun, setiap laku perjuangan pasti memiliki konsekuensi. Termasuk perjuangan seorang Indah untuk tetap bertahan dalam Iman Islam. Kepada Alhikmah Indah mengaku berencana mengabarkan berita keislaman dia pada orang tuanya dalam waktu dekat ini, selambat-lambatnya semester pertama 2010. Tentu dengan segala konsekuensi yang harus ia terima, meski itu pahit adanya.


(Siro, Februari 2010)

Kamis, 08 Januari 2009

Kabar...

wah..buat para blogger..hati-hati niy dengan tulisannya. Soalnya kalau ketahuan mencemarkan nama orang lain atau mengutuk sesuatu yang bikin orang lain tersinggung bisa kena denda niy..sudah ada UU yang mengaturnya bagi siapa saja yang mempublikasikan tulisan yang mencemarkan nama baik orang lain kalau g dipenjara ya kena denda hingga 1 M..
Sayang kan... And next..be carefull...

Selasa, 06 Januari 2009

PEMBANTAIAN PROPOSAL SKRIPSI...

Pertanyaan yang mungkin tak kuduga. “Kamu tahu tidak siapa yang bilang ‘Tuhan telah mati?’”. “tau bu, Neitzsche”. Meski aku bias menjawab, jelas pertanyaan itu tak ada kaitannya dengan proposal skripsiku. Namun tiba-tiba pertanyaan itu menohok aku. Setelah aku dibantai dengan beberapa pertanyaan yang tak jauh lebih tajam, aku merasa kecewa. Kecewa dengan semua usaha yang kukerjakan satu semester ini. Aku kecewa dengan dosen pembimbing yang tak pernah melihat letak kesalahan utamaku. Hingga akhirnya aku kena tembak tepat di jantung proposalku.
Memang sih, aku tak harus berharap semua dosen penguji seminarku faham dengan kondisiku, tepatnya kami-kelompok kami. Toh, mereka tidak pernah tahu bahwa dengan proposalku aku bagai anak kecil yang berlari dengan buah karyanya. Penuh semangat, pd, dan membahana. Maka dengan bangga aku mempresentasikannya, namun saat aku bertemu orang lain tiba-tiba karya itu dibuang begitu saja…….. ah pedih!
Aku tak bisa berkata apapun. Cukuplah air mata ini yang menjadi saksi… bahwa perjuangan ini, bahwa keliling kampus nyari bahan adalah kerja keras yang tak terbayar… aku cukup senang dengan semua….
Meski kadang aku belum rela, bahwa semua harus berakhir seperti ini..ih, sakit sekali! Ternyata rasa percaya diri saja tidak cukup. Rasa bangga saja tidak cukup. Padahal sesaat setelah kupresentasikan dosen utamaku bilang “saya sangat appreciate dengan tema yang diangkat. Bagus sekali”. Heninglah tiba-tiba ruangan, coz setelah 3 orang yang presentasi habis terbantai. Namun beberapa menit kemudian justru jantung utama proposalku kena bantai. Sampe nanya-nanya Nietzsche segala pula…. Padahal tak ada korelasinya. Tapi aku tetap bangga bahwa aku bisa menjawabnya. Menjawab makna Tuhan telah matinya Nietzsche… (ternyata tak sia-sia aku baca Zarathustra. Thank ‘Nden atas bukunya..)
Walau aku, mendapati proposalku masih ganti total variable, namun ada yang hal aneh yang kedapati dari seminar ini. Aku sempat ditanya “Kamu mahasiswa Psikologi atau Sastra?” wuahaha…akhirnya ada juga orang yang hampir menganggapku anak Sastra… bukankan itu mah mimpi yang tak kesampaian… tapi aku bilang aku anak Psikologi yang Nyastra. Heheheee….