Setelah hari ini aku tak akan pernah tahu esok hari. Namun jiwaku selalu terbang menghinggapi sore yang datang menjelang. Karena aku selalu ingin lebih dulu datang di pagi hari. Aku tak pernah suka jika aku terbangun setelah mentari. Bukan karena harus, melainkan undangan bumi yang selalu menyambutku dengan sejuta wara dan wiri.
Aku tak pernah tahu bahwa aku punya dunia yang tak kumengerti. Menjauh katik aku butuh dan menghilang ketika ragaku mencengkram. Tapi selalu ada dikala rindu sepi menerjang. Aku selalu tak butuh dengan dunia yang menganggu.
Kadang aku butuh dengan diriku. Tanpa sesuatu apapun. Hanya diriku. Aku butuh bersama menikmati pagi, merenungi kalbu dan membakar api di hati. Ini membuatku hangat dan menggebu. Aku bahkan tak mengerti kenapa aku harus berlari dari bumi.
Boleh jadi duniaku tak mengenalku lagi. Sebuah dunia yang kutinggali menghempaskan segala naluri. Menggoyangkan jiwa dan menepikan sepi. Tapi aku seperti sendiri. Bukan lagi bernyanyi melainkan menarik diri. Jika segudang mimpi tertoreh dihati, di dunia ini justru mimpi itu jadi misteri nyeri. Aku menjadi tak butuh mimpi. Itu bukan lagi punyaku, bukan lagi diriku. Dan aku hanya terhempas ke tepi. Nyeri, dan kini mematuk diri.
Sakit. Sakit saat aku tak mampu mengenal diriku sendiri. Tak lagi mampu menyatukan diri-diri yang berceceran di jalanan kaki ini. Sungai telah membelah aku dan diriku, menghamburkan diri-diri dalam banyak rupa. Aku tak kuasa meningkahi janji hati yang parau berbunyi. Aku hanya menangis memapah hati.
Ah, aku terjebak dalam dunia yang terkoyak. Aku kehilangan harta dari mimpi. Aku tengah mengadukan diri pada diri. Aku akan menuntut diri dari diri.
Dunia, yang nampak suci telah menggelantungkan diri dalam nyeri. Bukan memberi arti tapi memaksa diri. Aku melihat diri trekoyak mimpi, dan jadi budak sunyi.
Aku tak menjadi diri dalam jalan ini melainkan sunyi yang diam tak bernyali. Dan aku tebak hidup bukan budak mimpi. Karena mimpiku menghancurkan mimpi diriku.
Aku akan menggali lubang diri, mengeluarkan lintah yang lama mebuncah. Aku tak akan menjadi sepi yang bergeming karena angin. Aku akan menjadi diri dengan tali-tali diri.

eh siro.. ga nyangka ih ternyata puitis juga ya dirimu...
BalasHapus