Pertanyaan yang mungkin tak kuduga. “Kamu tahu tidak siapa yang bilang ‘Tuhan telah mati?’”. “tau bu, Neitzsche”. Meski aku bias menjawab, jelas pertanyaan itu tak ada kaitannya dengan proposal skripsiku. Namun tiba-tiba pertanyaan itu menohok aku. Setelah aku dibantai dengan beberapa pertanyaan yang tak jauh lebih tajam, aku merasa kecewa. Kecewa dengan semua usaha yang kukerjakan satu semester ini. Aku kecewa dengan dosen pembimbing yang tak pernah melihat letak kesalahan utamaku. Hingga akhirnya aku kena tembak tepat di jantung proposalku.
Memang sih, aku tak harus berharap semua dosen penguji seminarku faham dengan kondisiku, tepatnya kami-kelompok kami. Toh, mereka tidak pernah tahu bahwa dengan proposalku aku bagai anak kecil yang berlari dengan buah karyanya. Penuh semangat, pd, dan membahana. Maka dengan bangga aku mempresentasikannya, namun saat aku bertemu orang lain tiba-tiba karya itu dibuang begitu saja…….. ah pedih!
Aku tak bisa berkata apapun. Cukuplah air mata ini yang menjadi saksi… bahwa perjuangan ini, bahwa keliling kampus nyari bahan adalah kerja keras yang tak terbayar… aku cukup senang dengan semua….
Meski kadang aku belum rela, bahwa semua harus berakhir seperti ini..ih, sakit sekali! Ternyata rasa percaya diri saja tidak cukup. Rasa bangga saja tidak cukup. Padahal sesaat setelah kupresentasikan dosen utamaku bilang “saya sangat appreciate dengan tema yang diangkat. Bagus sekali”. Heninglah tiba-tiba ruangan, coz setelah 3 orang yang presentasi habis terbantai. Namun beberapa menit kemudian justru jantung utama proposalku kena bantai. Sampe nanya-nanya Nietzsche segala pula…. Padahal tak ada korelasinya. Tapi aku tetap bangga bahwa aku bisa menjawabnya. Menjawab makna Tuhan telah matinya Nietzsche… (ternyata tak sia-sia aku baca Zarathustra. Thank ‘Nden atas bukunya..)
Walau aku, mendapati proposalku masih ganti total variable, namun ada yang hal aneh yang kedapati dari seminar ini. Aku sempat ditanya “Kamu mahasiswa Psikologi atau Sastra?” wuahaha…akhirnya ada juga orang yang hampir menganggapku anak Sastra… bukankan itu mah mimpi yang tak kesampaian… tapi aku bilang aku anak Psikologi yang Nyastra. Heheheee….
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan kasih commetnya di sini....