![]() |
| google.com |
Duhai Allah, deraan rasa sakit yang menyiksa hubungan kita akhirnya hanya menjadi bilur-bilur di jiwaku. Menjadi borok yang selalu terlihat ketika aku menghadap-Mu. Menjadi kesedihan saat kita berbincang.
Duhai Allah, Engkau Maha Tahu betapa aku menahan jerit kesakitan, saat aku tak bisa menitikan air mata untuk-Mu. Betapa Aku menjadi anjing yang jalang saat mengunjungi istana-istana-Mu.
Duhai Allah, kerinduanku pada-Mu menyumbatku. Mengeringkan telaga hatiku. Menciumkan aku pada pusara-Mu.
Duhai Allah, namun aku beku. Adakah Engkau marah kepadaku? Adakah Engkau tengah merajuk?
Duhai Allah, Engkau tahu betapa aku tak bisa menjadi musafir tanpa-Mu. Berjalan terkoyak tanpa berteduh di kerindangan kasih-Mu.
Aku tahu. Engkau melihatku berjalan dengan cakaran-cakaran hitam dalam diri. Kakiku penuh luka. Kadang tertatih menyusuri kerikil-kerikil tajam di jalanan.
Aku tahu. Engkau merasaiku bergemuruh dengan ombak-ombak di hati. Jiwaku bernanah. Kadang terperosok dalam jurang-jurang gelap tak berarah.
Aku tahu. Engkau menatapku tajam. Saat aku berlari dari kenyataan. Saat Engkau menamparku keras, kemudian memeluk hangat jiwaku.
Aku tahu. Air mata ini Engkau usap dengan belaian tangan-Mu. Menjauhkan aku dari rasa hujan, dari rasa panas, dari dahaga kehidupan.
Aku tahu. Mencinta-iMu adalah rasa sakit dalam hidupku. Mencintai-Mu adalah kecemburuanku pada makhluk-makhluk-Mu yang sholeh.
Duhai Allah… biarkan aku mengendus sepi di selasak rindu-Mu. Berjejak tepalak yang tak nampak. Dan mengais remah-remah cinta-Mu.
Duhai Allah… dalam semua, betapa aku ingin selalu mengucapkan, “aku hanya ingin menjadi kekasih-Mu sahaja...”
Catatan Hati
(Bandung, 12 April 2010)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan kasih commetnya di sini....