Selasa, 21 September 2010

Memilih Islam di Puncak Keraguan

(Indah Margaretta)


“jika kamu masuk Islam, tak ada lagi hubungan anak dan orang tua”


Sebagai seorang Protestan, selain aktif di sekolah, Indah Margaretta pun aktif menjadi pelayan “Tuhan” di gereja. Manakala rutinitas baca Alquran dan doa pagi sebelum beraktivitas dilaksanakan di sekolahnya, Indah kerap menjadi siswa terakhir yang masuk kelas. Ia tak mau mendengar teman-teman muslimnya membaca Al Quran.

Suatu malam saat ia masih menjabat sebagai ketua unit kegiatan Rokris (Rohani Kristen), dua kali berturut-turut ia bermimpi aneh. Sebelumnya, mimpi itu belum pernah tertulis dalam kitab hidupnya. Dalam mimpi itu, Indah berpakaian lengkap, menggunakan mukena dan mengerjakan shalat. Usai takbiratul ikhram ia bingung, karena tak tahu gerakan apa yang mesti dilakukan. Sedikit terkejut, ia pun lantas terbangun dari mimpinya. Saat itu Indah berusaha menganggap mimpi tadi sekedar bunga tidur belaka.

Ia pun kembali terlelap dalam tidurnya. Namun, tak lama kemudian, setengah sadar, Indah menemukan dirinya dibawa oleh sosok tak dikenal. Sosok itu adalah seorang laki-laki yang wajahnya memancarkan sinar terang benderang, hingga tak bisa jelas terlihat.

Sekejap, tiba-tiba Indah mendapati dirinya tengah berjalan menyusuri sebuah tempat nan indah, yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya. Belakangan Indah baru sadar, itulah kota suci umat Islam, Mekkah, dimana di dalamnya terdapat bangunan suci peninggalan nabi Ibrahim, Ka’bah. Saat itu, untuk pertama kalinya Indah tahu, jika di dalam kabah itu ada sebuah batu tak berbentuk berwarna hitam. Itulah Hajar Aswad, yang juga ia saksikan langsung dalam peristiwa itu.

Belum habis rasa kagum dia, Indah kembali terkejut tatkala mulut sosok laki-laki itu mengeluarkan suara yang luar biasa menggema. Hingga kini, benaknya masih bertanya-tanya, apakah peristiwa itu mimpi atau bukan? Jika memang mimpi, mengapa saat terbangun, telapak kakinya terasa kotor, penuh pasir?

Ganjalan Iman

Usai kejadian itu, Iman Kristennya terasa hambar. Ada sesuatu yang mengganjal manakala ia harus pergi ke Gereja, atau bahkan sekedar berdoa kepada Tuhannya. Batinnya mulai terasa nyaman, justru saat mendengarkan teman-temannya tilawah (baca Alquran) di kelas. Anehnya lagi, tanpa sadar, setiap kali Adzan berkumandang, air matanya meleleh, membasahi kedua pipinya.

Namun, jabatannya sebagai ketua Rokris, membuatnya tak lantas menampakkan perubahan diri. Ia tetap menjalankan rutinitasnya sebagai seorang nasrani.

Lama kelamaan, Indah merasakan keraguan luar biasa dalam akidahnya. Ia bimbang dan tengah berada di puncak keraguan. Indah pun menyatakan diri bukan lagi bagian dari pemeluk Kristen. Ia mengaku skeptis, cenderung Atheis.

Demi mencari iklim kebebasan berkeyakinan, Indah mencoba lari dari Jakarta. Beruntung, ia diterima kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung. Di kota inilah ia mulai mencari kebenaran. Sebuah kekuatan yang tanpa disadari tengah menuntunnya.

Satu tahun dalam pencarian, ia bergulat dengan pemikiran dan hatinya yang merindukan sebuah telaga ketenangan. Meski Islam sudah memikat hatinya sejak lama, namun Indah tak lantas memutuskan diri untuk menjadi seorang muslim. Butuh waktu untuk memantapkan hatinya, menapaki jalan yang sama sekali baru.

Delapan Februari 2006, di Gunung Batu Bandung, setelah benar-benar mantap, Indah pun mengucap dua kalimat syahadat. Tidak banyak yang diberitahu ihwal ke-Islamannya. Bahkan, hingga ditemui Alhikmah akhir Januari 2010, kedua orang tuanya sama sekali belum diberi tahu ihwal itu. Hanya beberapa sahabat muslimnya saja yang mengetahui.

Setiap kali pulang ke Jakarta, Indah selalu mengatur waktu shalatnya dengan baik agar orang tuanya tak sampai curiga. Shalat subuh ia lakukan sebelum orang lain bangun, Dzuhur dan Ashar dijamak usai mandi siang, supaya orang tidak curiga. Begitu seterusnya, hingga suatu hari papanya melihat Indah membawa sebuah Iqro.

Melihat itu, tanpa diduga sang ayah spontan mendaratkan tinjunya tepat di muka Indah. Prekkrerkk kacamata yang masih ia kenakan pun pecah berkeping-keping. Indah kaget luar biasa. Tubuhnya terhuyung-huyung seperti mencari keseimbangan agar tak jatuh terjerembab. Darah segar pun mengalir dari kulit hidungnya yang robek, tersayat pecahan kacamata.

“Ingat Indah, jika kamu masuk Islam, maka tak ada lagi hubungan anak dan orang tua,” ancam sang ayah. Beruntung, aksi orang tuanya berhenti hanya sampai di sana. Mereka belum menyimpulkan kalau anaknya itu benar-benar sudah berubah akidah.

Nyaris kembali Kristen

Pengalaman itu membuatnya ekstra hati-hati. Ia berusaha untuk tidak membawa apapun yang ada kaitannya dengan simbol Islam saat menemui orang tuanya. Bahkan satu tahun terakhir, Jilbabnya masih buka-tutup. Saat merasa aman ia kenakan, ketika pulang terpaksa dibuka.

Begitupun saat memasuki dunia kampus. Ia terpaksa menanggalkan kerudungnya, karena khawatir ada sanak saudara yang melihat, lantas melaporkan pada orangtuanya.

Kondisi seperti itu membuatnya tertekan. Ia lelah dan capek untuk terus bersikap backstreet seperti itu. Bahkan, sempat terlintas dalam benaknya untuk kembali lagi menjadi seorang pemeluk Protestan. Pulang-Pergi antara Bandung-Jakarta membuatnya semakin sering mengunjungi gereja. Tapi anehnya, semakin intens ia datang ke gereja, semakin menyusut keyakinan akan iman kristennya.

Syukur, pada akhirnya ia sadar bahwa hidup adalah pilihan. Ia bulatkan keyakinan pada dirinya bahwa Islam adalah jalan terbaik untuk menggapai kebahagiaan hakiki.

“Ini masalah hati dan akidah, hingga keyakinan ini tidak bisa diganti dengan apapun,” ungkapnya.

Saat ini bagi Indah, tantangan terberatnya adalah memberitahukan bunda dan papanya tentang ke-Islaman dia, setelah tiga tahun sengaja disembunyikan. Berat rasanya bagi Indah, tatkala membayangkan reaksi keduanya saat mengetahui anaknya sudah beralih keyakinan, kelak.

Namun, setiap laku perjuangan pasti memiliki konsekuensi. Termasuk perjuangan seorang Indah untuk tetap bertahan dalam Iman Islam. Kepada Alhikmah Indah mengaku berencana mengabarkan berita keislaman dia pada orang tuanya dalam waktu dekat ini, selambat-lambatnya semester pertama 2010. Tentu dengan segala konsekuensi yang harus ia terima, meski itu pahit adanya.


(Siro, Februari 2010)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan kasih commetnya di sini....