Selasa, 21 September 2010

Mawar Di Atas Menara

Mungkin kau adalah orang kesekian yang berubah. Berubah karenaku. Atau mungkin gelombang kita sama. Satu pemikiran atau mungkin satu hati. Ah, tak mungkin. Jelaslah tak mungkin, wong kita saja berbeda badan. Mana mungkin hati kita satu.

Tapi,ingatkah saat kita pertama kali bertemu, saat itu engkau melihatku dari ujung kepala hingga mata kaki. Aku pikir kau adalah saudaraku, satu rumpun denganku. Aku bisa melihat dari caramu memandang, dari gaya berpakaiannya, dari sandal jepit yang kau pakai di tempat kerja. Kau tampak seperti teman-teman kampusku, kebanyakan.

Aku kira, kau adalah temanku di tempat baruku. Tapi ternyata bukan, justru kau jauh dari sekedar yang kukira. Engkau datang dari komunitas para penggemar sufisme. Mungkin lebih tepat kau adalah seorang salafiy. Ya, itulah yang kusimpulkan pada akhirnya.

Tapi ada yang berbeda. Ada apa dengan pandanganmu sobat? Rasa-rasanya ada yang hilang dari keutuhan jiwa sufi itu? Sering aku mendapati engkau melahap makanan mata yang menyakitkan. Iya, terasa sakit karena itu bukan hakmu. Kau pandangi hawa terlalu lama, terlalu dalam mungkin.

Ku coba menggali, ternyata kau sudah memiliki bidadari hati. Tapi kenapa? Kenapa mata itu menjelajahi negeri yang haram bagi hatimu?

Termasuk aku merasakan, hawa panas itu menyembur darimu. Hingga kutahu juga tentang perceraian itu. Ah, ada apa denganmu kawan? Aku terlalu bersih memandang dirimu, menyangka suci jiwamu. Saat kupergoki dirimu bertingkah malu, ahai aku merasakan jiwamu begitu memuakkan bagiku. Aku dihinggapi jijik melihatmu. Teramat memuncak mungkin kali itu. Hingga menyisakan buih jijik yang tak tertahankan.

Aku tak menyangka, begitulah kaum Adam menjaga bola matanya. Ia tak sempat melihat aku tersenyum dengan kebanggaan akan dirimu yang pandai menyembunyikan pandangan.

Sejak itu, aku mencoba mengalihkan semua tentangmu sobat. Aku mencoba menjauh dari membutuhkanmu. Menghilangkan diri saat peluang berpapasan denganmu datang. Bukan bersembunyi, atau menjauhkan diri. Aku takut, rasa jijik itu tumpah saat tubuh dan mataku berderak di dekatmu.

Ah, rasanya aku tak ingin membencimu. Tapi rasa benci pada sikapmu, membawaku pada benci padamu jua. Mungkin, kau merasa dengan perubahanku. Kau mungkin merasa, apa yang terjadi.

Mungkin, kau sadar, sehingga kau langsung pintar merasa bahasa tubuhku.Aku menghindar, karena memang tidak suka. Dan begitulah aku ditarbiyah di komunitasku. Aku justru ingin menunjukan padamu, bahawa pendidikan yang kulalui, kujalani ini berbekas dalam jiwaku. Aku juga ingin membuktikan bahwa aku bisa menjadi pribadi yang Islam inginkan. Maka aku coba mengukuhkan diri, menyucikan semua tentangku kepadamu. Biar kau tahu, inilah aku dengan dakwah tarbiyahnya. Bukan aku ingin menyombongkan dari komunitas mana aku berasal, tapi aku ingin menunjukan bahwa komunitasku jauh labih baik menghasilkan generasi terbaik. (Amin)

Lalu, kau rasakan itu. Kau mulai berhati-hati dengan matamu. Entahlah, di tempat lain. Cuma aku melihat kau mulai berubah. Kau ragu menatapku, tidak seperti dulu. Kadang, untuk berkata-kata pun kau malu padaku. Rasanya, engkau menjadi seorang yang tak mengenalku, mencoba mengimbangi caraku melihat makhluk lain dari duniaku. Karena aku hanya menatap sekilas, setelahnya biasanya kuhabiskan menatap materi.

Aha, aku mencoba mancatatmu. Ternyata kau benar berubah. Memagari setiap tatapan, mengurangi pandangan dan kadang tak berkata-kata yang tak kau perlukan.

Tapi maaf, aku bukan ingin mengajarimu. Aku hanya ingin melihatmu, manjadi kawanku mempersiapkan yang terbaik untuk masa kelak. Aku sungguh tak membencimu, melainkan sayang kepada saudara untuk bisa berbagi hikmah.

Sungguh, bukan aku tak mau menikmati syurga-syurga itu, tapi aku tak sanggup memikul hati yang dibebani dengan noda.

Biarkanlah itu menjadi pelajaran, menjadi ibroh yang bisa kita sebarkan ke banyak orang. Mungkin setelah kau, aku akan sebarkan ke kawan-kawan kita yang lain. Biarlah rasa manis itu kita nikmati bersama.

dedicated for my brother
Sungguh, sesuatu itu diawali dari kita, dari perilaku kita dan pola kerja kita
Biarkanlah saudaramu ini menjadi mawar cantik di atas menara
Tak semua orang bisa menyapa, namun semua orang bisa menatap keindahannya
heheee.. lebay..
Ayo kawan, semangat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan kasih commetnya di sini....